Jumat, 28 Februari 2014

Tentang Cinta

Doa Sayyid Qutb Tentang Cinta"
Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta. Jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu.
Ya Allah, jika aku jatuh hati. Izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu agar aku tidak terjatuh dalam jurang cinta semu.
Ya Robbi, jika aku jatuh hati. Jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling dari hati-Mu.
Ya Robbul ‘Izzati, jika aku rindu, rindukanlah aku pada seseorang yang merindu syahid di jalan-Mu.
Ya Allah, jika aku rindu. Jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindukan surga-Mu.
Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasihmu. Janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat disepertiga malam terakhir-Mu.
Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu. Jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-Mu.
Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu. Jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu.
Ya Allah Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa pada taat pada-Mu, telah bersatu dalam dakwah pada-Mu, telah berpadu dalam membela syariat-Mu.
Kukuhkanlah ya Allah ikatannya.
Kekalkanlah cintanya, tunjukanlah jalan-jalannya, penuhilah hati-hati ini dengan Nur-Mu yang tidak pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan pada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.
-As-Syahid Sayyid Qutb-

Senin, 24 Februari 2014

Cinta'i Ibu mu

Bismillah..
Alhamdulillah bisa nulis kembali, gak tau kenapa, apakah aku yang begitu peka, membaca cerita pendek dari blog nya kakek Jamil Azzaini atau ada alasan lain yang begitu menderu :') cerita ini membuat air mata ku terjatuh, ya Allah begitu sayangnya kami dengan wanita mulia bernama ibu itu. semoga cerita pendek ini juga dapat memberikan inspirasi pada kalian semua yang sudah membacanya, terutama buatku yang sudah posting, kasih sayang dan cintanya yang tak kan pernah mampu kita balas. Selamat membaca ^^ semoga rasa cinta itu akan semakin bertambah, in shaa Allah
Bapak Rela Kau Lebih Mencintai Mama
Senin kemarin, anak saya Hana Fadhila Firdausi (Hana, kelas 8) libur. Sekolahnya digunakan untuk try out kakak kelasnya. Karena ingin ngobrol dari hati ke hati dengan Hana, kemarin saya juga memutuskan untuk di rumah saja. Alhamdulillah, saya bisa ngobrol empat mata dengan anak saya yang sudah mulai remaja ini.
Kami ngobrol tentang bagaimana interaksi yang baik antara orang tua dan anak. Bagaimana pengorbanan seorang ibu, apa yang harus dijaga oleh seorang ibu agar anaknya selalu berada di jalan yang benar. Saya sampaikan kepada Hana, “Kamu harus mencintai dan menaruh rasa hormat kepada mamamu tiga kali lebih besar dibandingkan yang kamu lakukan kepada bapak.”
Saya menambahkan, “Ucapan seorang ibu bisa menjadi doa. Dulu di kampung bapak, ada seorang anak yang diminta ibunya untuk membantu bekerja. Anak itu menolak sambil marah-marah. Sang ibu kemudian berkata, busuk kakimu! Maka, beberapa hari kemudian kaki anak itu bengkak, membesar dan menimbulkan bau busuk.”
Saya lanjutkan cerita itu dengan pesan, “Saat kelak kamu menjadi seorang ibu, jaga dan berhati-hatilah terhadap yang kamu ucapkan. Ucapanmu adalah doa. Nah, kamu sekarang masih menjadi seorang anak maka tugasmu menjaga agar mamamu tidak terpancing mengucapkan kata-kata yang kotor.”
Saya kemudian bertanya kepada Hana, “Bagaimana agar mama tidak terpancing mengucapkan kata yang kotor?” Sambil terisak Hana menjawab, “Hana harus taat sama mama, Hana harus nurut sama mama, Hana harus menghormati mama. Hana gak boleh membuat mama marah.”
Suasana hening, saya menarik nafas panjang, butiran air mata mengalir pelan di pipi saya. Dengan terbata-bata saya berkata, “Menghormati mama tak cukup hanya cium tangan, memeluk, mendoakan dan bilang I love you ke mama. Kamu juga harus memuliakan tamu-tamu, teman-teman dan saudara mama. Kamu juga harus berusaha keras agar mamamu bangga dengan kamu.”
Setelah beberapa saat dalam suasana hening, saya tutup obrolan itu dengan berkata, “Mbak Hana, ridho Allah tergantung ridho orang tua. Maka buatlah agar mamamu selalu ridho kepadamu. Bapak rela cintamu kepada mama jauh lebih besar dibandingkan ke bapak. Kamu cinta khan sama bapak?” Setelah Hana mengangguk, saya berkata, “Berikan cintamu kepada mama tiga kali lipat dibandingkan cintamu kepada bapak.”
Hanapun semakin terisak, sementara saya tertegun dan bertanya kepada diri sendiri, “Apakah saya sudah termasuk orang yang memulikan ibu?” Hana menangis menuju kamarnya. Sementara saya bersujud kemudian mendokan ibu saya yang sangat saya cintai.
Salam SuksesMulia!

Wanita adalah Amanah

Wanita itu ibarat buku. Jika ia tersampul dengan jilbab, maka itu adalah ikhtiar untuk menjaga akhlaknya. Terlebih jika jilbab itu tidak hanya sekedar untuk menutupi tubuhnya, akan tapi juga menjilbabkan hati. Dan jika ia tak bersampul, maka ia akan terlihat lebih kusam, ternoda oleh coretan, sobek, karena dia tidak bisa menjaga dirinya, itu karena dia membiarkan auratnya terlihat oleh laki-laki bukan mahramnya.

Menjadi wanita adalah amanah. Bukan amanah yang sementara. Tapi amanah sepanjang usia ini ada. Dan sudah seharusnya kita menjaga amanah ini, dengan membentengi diri kita iman dan ilmu. Senantiasa belajar dan berusaha untuk selalu memperbaiki diri. Karena memang menjadi wanita baik itu tidak mudah. Butuh iman dan ilmu kehidupan yang seiring dengan pengalaman. Lihatlah di luar sana, masih banyak wanita yang dengan bangganya mengobral kehormatan dan kecantikannya, memperlihatkan auratnya kepada non mahram, bahkan ada diantara mereka yang sampai terenggut kehormatannya dikarenakan tidak bisa menjaga dirinya. Astaghfirullah, susahnya menjadi wanita.

Benar. Menjadi wanita adalah pilihan. Bukan aku yang memilihnya, tapi Kau yang memilihkannya untukku. Aku tahu, Allah penggenggam segala ilmu. Sebelum Ia ciptakan aku, Ia pasti punya pertimbangan khusus, hingga akhirnya saat kulahir kedunia, Ia menjadikan diriku seorang wanita. Aku sadar, tidak main-main Allah mengamanahkan ini kepadaku. Karena kutahu, wanita adalah makhluk yang luar biasa. Yang dari rahimnya bisa terlahir manusia semulia Rasulullah atau manusia sehina Fir’aun. Dan seperti apa diri kita kelak sangat di pengaruhi oleh bagaimana cara kita bersikap, dan menjaga izzah dan iffah kita.

Ukhti, bersyukurlah karena engkau di karunia wajah yang cantik dan tubuh yang sempurna. Dan sudah seharusnya engkau menjaga amanah tersebut dengan sebaik-baiknya. Bukan dengan memamerkan aurat kepada laki-laki bukan mahram, sehingga membuat mereka tergoda dan memuja kecantikanmu. Tapi jagalah amanah tersebut dengan menjaga dirimu dari hal-hal yang Allah murkai, karena cantik yang sesungguhnya adalah ketika engkau bisa menjaga dirimu dan kehormatanmu. Bukan dengan berlomba-lomba mempercantik tubuh sehingga tidak mengindahkan batasan-batasan yang telah Allah berikan kepadamu.

Sungguh rasanya malu diri ini, ketika aku tidak bisa menjaga amanah yang telah Allah berikan kepadaku. Aku malu menjadi wanita, kalau faktanya wanita itu gampang diiming-iminggi harta dengan mengorbankan harga dirinya. Aku malu menjadi wanita kalau ternyata wanita itu sebagai sumber maksiat, memikat, hingga mengajak pada jalan sesat. Aku malu menjadi wanita kalau ternyata dari pandangan dan suara wanita yang tak terjaga sanggup memunculkan syahwat. Aku malu menjadi wanita kalau ternyata tindak tandukku tidak berkenan di hati sahabat-sahabatku . Aku malu menjadi wanita kalau ternyata wanita tak sanggup jadi ibu yang bijak bagi anaknya dan separuh hati mendampingi perjuangan suaminya. Aku malu menjadi wanita yang tidak sesuai dengan fitrahnya. Ya, Aku malu jika sekarang aku belum menjadi sosok wanita yang seperti Allah harapkan. Aku malu, karena itu pertanda aku belum amanah terhadap titipan Allah ini.


*sumber : dakwahmuslimah

Minggu, 23 Februari 2014

Namamu

*Aku Hanya Menulis Namamu*
teruntuk kamu, 
yang setia berkunjung di setiap mimpiku,
aku hanya menulis sajak,
yang kutunjukkan untukmu,
untuk setiap saat dimana aku merindumu,
ataupun mencintamu,
akupun sungguh tak tahu
dan semua itu,
masih tentang kamu

akupun hanya menulis,

rencana hidupku yang mungkin 
lebih cocok kusebut mimpi,
bersama kamu,
menatap senja,
bermain layang-layang,
tanpa harus ada yang sendirian,
dan pulang
aku juga hanya menulis namamu,
dalam benakku,
saat kutahu,
menyebut namamu tak mampu hilangkan rindu

aku…

ah, aku hanya menulis,
apapun yang kurasa perlu,
untuk hatiku,
untuk meringankannya ketika mengingatmu

Bandung, 23 Oktober 2011

- Tia Setiawati Priatna