Selasa, 12 November 2013

Menjemput Jodoh

“Ya Allah, berkahilah aku dalam ikhtiar untuk menjemput jodoh yang tertakdir untukku. Cukupkan kami bahwa hanya Engkau yang menjadi penjawab segala tanya dan penenang hatiku. Aku meyakini bahwa Cinta itu datangnya dariMu, Allah. Dan  akan Engkau hadirkan cinta itu untuk seseorang yang namanya sudah Engkau tulis di LauhulMahfudz. 
Ya Allah… jikalau dia yang sedang ada dalam hatiku sekarang ini memanglah bukan yang engkau takdirkan untukku, maka musnahkan dan buang perasaan itu, agar tak  semakin mengotori hati  dan  pikiranku terutama agar tak membuat-Mu murka karenanya. Namun, jikalau  dia memang yang engkau takdirkan  untukku, maka berikanlah kesabaran dan kekuatan dalam menghimpun keterserakan antar kami berdua. Berilah keyakinan, kesetiaaan, lalu keberanian pada hati kami berdua. 
Ya Allah… jikalau suatu saat aku bertemu dengan ia yang Engkau takdirkan untukku, maka yakinkan aku dengan membuat hatiku tidak tertarik pada pria (/wanita) manapun dan tidak goyah karena alasan apapun. 
Ya Allah…yakinkan hatiku dengan kesiapaan, kerelaan, dan keberanian untuk saling membuka, menerima dan menutup aib pada diri kami berdua. Yakinkan hatiku dengan membuat aku untuk tidak mencari-cari celah kekurangannya, seperti yang selama ini aku lakukan atas dasar penjagaan sesuai apa yang memang seharusnya. 
Ya Allah… yakinkan hatiku… yakinkan hatiku… yakinkan hatiku dengan keyakinan atasMu yang lebih dari segalanya, agar tak mendahului apa yang telah Engkau tata, agar tak membuat-Mu murka atau Rasul-Mu menitikkan air mata, atas apa yang tidakseharusnya. 
Aku tak mau meminta segera, karena itu berarti aku telah memaksa Engkau untuk merombak yang yang sudah digariskan ketetapanNya. Aku juga tak mau berdoa secepatnya, karena siapa tahu saja aku telah mengatasnamakan niatan suci padahal mengenyampingkannya karena nafsu belaka. Aku tak mau meminta segera atau secepatnya, karena itu tergesa-gesa dan seolah memaksa. Aku hanya meminta pada-Mu untuk memberikan kesiapan dan kerelaan menerima, atas apa yang Kau gariskan untukku, agar aku senantiasa mensyukurinya. 
Ya Allah, tunjukilah aku jalan menuju takdir terbaikMu. Sabarkan aku dalam penantian yang terus merindu ini. 
Aaamin Yaa Rabbal’alamiin….”

Selasa, 05 November 2013

Allah Maha Mengetahui

Yang sederhana, jangan dirumit-rumitkan. Yang mudah, jangan disulit-sulitkan sehingga membuat kita merasa tak sanggup meraih dan mengerjakannya, padahal agama ini tidak menuntut syarat yang demikian tinggi dan sulit. Sungguh, tidak akan mempersulit agamanya kecuali ia akan terkalahkan sendiri. Sungguh, akan ada orang-orang yang melampaui batas(ghuluw) dalam agama ini maupun mengetat-ngetatkan (tasyaddud) apa yang dilonggarkan agama. Inilah yang perlu kita khawatiri.

Sebalik-baliknya, jangan memudah-mudahkan (tasahul) urusan yang telah ditentukan. Sangat berbeda memudahkan dengan memudah-mudahkan. Yang pertama, sikap pribadi untuk memudahkan urusan dan tidak mempersulitnya. Sedangkan yang kedua, mencari-cari kelonggaran dan meremehkan rambu-rambu yang telah diberikan oleh Allah Ta`ala dan dijelaskan oleh rasul-Nya, Muhammad shallaLlahu:alaihi wa sallam. Sikap yang kedua ini dapat bersumber dari lemahnya iman, dapat juga bersumber dari lemahnya ilmu sehingga tidak tahu telah terjatuh pada tasahul (memudah-mudahkan) tanpa sadar. Sebagiannya karena syubhat, yakni munculnya keyakinan yang datangnya dari luar agama, tetapi dianggap sebagai bagian dari agama. Contoh: rumah tangga akan sulit sekali mencapai kebahagiaan jika sebelum menikah tidak saling mengenal dengan sangat baik.

Angan-angan lain yang dianggap sebagai faktor yang sangat mempengaruhi kebahagiaan suami-istri adalah keselarasan fisik, pendidikan, suku maupun latar belakang ekonomi. `Berawal dari anggapan ini, orang banyak bersibuk dan khawatir dengan hal-hal yang bersifat fisik, tetapi justru lalai dengan hal yang lebih mendasar, yakni lurusnya niat dan matangnya ilmu.

Yang paling penting untuk kita perhatikan adalah komitmennya terhadap agama keutamaan akhlaknya. Bahkan ini pun tidak serta merta dapat dilihat dari keluasan ilmu agamanya. Jika ada lelaki yang bagus agama dan akhlaknya datang meminangmu, jangan abaikan ia. Terimalah. Sungguh ini merupakan kebaikan yang menjadi pintu barakah.

Jika engkau telah memiliki ketetapan hati untuk menikah, bersegeralah. Carilah wanita yang baik agama dan akhlaknya. Sebaiknya, jarak antara peminangan (khitbah) dengan akad nikah tidak terlalu lama. Tepatnya : tidak lama. Merupakan hal yang lumrah dan patut jika peminangan langsung diiringi dengan akad nikah, sehingga tidak berlama-lama menunggu.

Terkait dengan jodoh, ada dua hal penting yang perlu kita pahami. Pertama, Allah Ta`ala Maha Kuasa atas segala sesuatu lagi Maha Mengetahui. Jika Allah Ta`ala telah tentukan jodoh, maka ia pasti akan bertemu dengan kita, dimana pun tempatnya, meskipun sangat tersembunyi. Allah Ta`ala Maha Kuasa untuk menentukan terjadinya pertemuan itu. Kedua, ikhtiar merupakan kewajiban yang kesungguhan melakukannya karena Allah Ta`ala semata amat berpengaruh terhadap barakah pernikahan. Inilah sebaik-baik pernikahan.

Berhati-hatilah terhadap perkataan “Jodoh di tangan Tuhan, tapi jika kita tidak mengambilnya, bagaimana mungkin kita akan mendapatkannya.”
Atau perkataan, "Jodoh di tangan Tuhan. Tapi kita yang memutuskan untuk mengambilnya atau tidak.” | Ini merupakan salah satu perkataan yang sangat buruk.
Atau perkataan lain yang serupa dan amat fatal kesalahannya dari segi aqidah.

Sesungguhnya, tidak ada yang lebih utama untuk kita harapkan dalam pernikahan melebihi barakah. Ini pula yang kita mintakan do`a kepada yang hadir saat akad nikah maupun walimah kita. Salah satu pintu barakah itu adalah melakukan ikhtiar secara serius, bersungguh-sungguh dan sebaik-baiknya. Yang dimaksud baik adalah baik dalam iktikad, baik dalam kegigihan berusaha.

Apa yang perlu kita perhatikan dalam memilih seseorang untuk menjadi istri kita? Perhatikan kriteria paling mendasar, jangan bersibuk dengan kriteria yang tidak penting. Kriteria pokok itu ada pada aqidah dan akhlak. Selebihnya ada tuntunan untuk melakukannadzar, yakni melihat secara fisik (bukan foto) pada orang yang kita ingin menikahinya untuk memperoleh kemantapan hati menikahi. Jangan remehkan perkara ini. Lakukanlah karena ingin menetapi sunnah. Sesungguhnya bersama sunnah ada barakah.
Istikharah Sebelum Menikah
Bagaimana dengan istikharah? Tidak ada perintah khusus tentang istikharah dalam urusan nikah. Kita mendapati hadis shahih tentang istikharah dalam Shahih Bukhari untuk memohon pilihan dalam urusan apa pun. Jika kita telah memiliki tekad bulat untuk mengerjakan sesuatu, mantap terhadapnya, lalu kita memohon pilihan kepada Allahsubhanahu wa ta`ala
Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, dia bercerita: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajarkan istikharah kepada kami dalam (segala) urusan, sebagaimana beliau mengajari kami surat dari Al-Qur’an. Beliau bersabda:


إِذَ هَمَّ أَحَدُ كُمْ بِاْلأَمْرِ، فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيْضَةِ، ثُمَّ لْيَقُلْ : اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ. اَللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ خَيْرٌ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ (ا َوْ قَالَ: عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ) فَاقْدُرْهُ لِيْ وَيَسِّرْهُ لِيْ ثُمَّ بَارِكْ لِيْ فِيْهِ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ شَرٌّ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ (أَوْ قَالَ: فِيْ عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ) فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِيْ عَنْهُ وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِيْ بِهِ قَالَ : وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ

Jika salah seorang di antara kalian berkeinginan keras untuk melakukan sesuatu, maka hendaklah dia mengerjakan shalat dua raka`at di luar shalat wajib, dan hendaklah dia mengucapkan, 

"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon petunjuk kepada-Mu dengan ilmu-Mu, memohon ketetapan dengan kekuasan-Mu, dan aku memohon karunia-Mu yang sangat agung, karena sesungguhnya Engkau berkuasa sedang aku tidak kuasa sama sekali, Engkau mengetahui sedang aku tidak, dan Engkau Maha Mengetahui segala yang ghaib. 

Ya Allah, jika dalam pengetahuan-Mu urusan ini (kemudian menyebutkan langsung urusan yang dimaksud) lebih baik bagi diriku dalam agama, kehidupan, dan akhir urusanku” –atau mengucapkan, “baik dalam waktu dekat maupun yang akan datang"-, maka tetapkanlah ia bagiku dan mudahkanlah ia untukku. Kemudian berikan barakah kepadaku dalam menjalankannya. 

Dan jika dalam pengetahuan-Mu urusan ini buruk bagiku dalam agama, kehidupan dan akhir urusanku” –atau mengucapkan, “baik dalam waktu dekat maupun yang akan datang"-, maka jauhkanlah urusan itu dariku dan jauhkan aku darinya, serta tetapkanlah yang baik itu bagiku dimana pun kebaikan itu berada, kemudian jadikanlah aku orang yang ridha dengan ketetapan tersebut." Beliau bersabda, “Hendaklah dia menyebutkan keperluannya.” (HR. Bukhari).

Ada yang perlu kita renungkan dari hadis tersebut. Rasulullah shallaLlahu `alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita bahwa shalat istikharah itu dilakukan "jika salah seorang dari kalian berkeinginan kuat, bertekad besar untuk melakukan sesuatu (إِذَ هَمَّ أَحَدُ كُمْ بِاْلأَمْرِ)". Artinya, jika kita telah mantap melakukan setelah mempertimbangkan baik buruk serta maslahat madharat dari apa yang ingin kita tempuh, maka kita melakukan shalat istikharah untuk memohon petunjuk dan pilihan dari Allah subhanahu wa ta`ala. Betapa pun kita telah memiliki pertimbangan yang matang dan meyakini kebaikannya, kita harus mengingat bahwa Allah Ta`ala yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana lagi Maha Kuasa atas segala sesuatu. Maka kepada-Nya kita memohon petunjuk dan taufiq-Nya. Adapun jika nyata keburukan sesuatu itu, maka tidaklah patut melakukan shalat istikharah. Yang demikian ini agar tak menjatuhkan kita pada pembenaran terhadap keburukan.

Berkenaan dengan shalat istikharah setelah memiliki kemantapan, kisah Imam Bukharirahimahullah patut kita renungkan. Setelah beliau memastikan keshahihan dari hadis-hadis yang dikumpulkannya, beliau melakukan shalat istikharah untuk memutuskan hadis itu dimasukkan ke dalam Al-Jami’Ash-Shahih Al-Musnad min Haditsi Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam wa Sunanihi wa Ayyamihi atau kita kenal dengan Shahih Bukhari.

Muhammad bin Yusuf Al Firyabi rahimahullah menuturkan bahwa Imam Bukhari berkata, “Tidaklah aku menuliskan satu hadis pun dalam kitab ini, kecuali aku mandi terlebih dahulu, kemudian shalat dua raka`at.” Yang dimaksud di sini adalah shalat istikaharah.

Bagaimana jika kita sedang dalam keadaan penuh keraguan? Carilah apa-apa yang memantapkan, di antaranya seperti dituntunkan oleh Rasulullah shallaLlahu `alaihi wa sallam, yakni nadzar (melihat secara fisik orang yang kita berkeinginan menikah dengannya). Jika kita telah memiliki pilihan berdasarkan pertimbangan yang ada, maka kita melakukan shalat istikharah untuk memohon ketetapan pilihan dari Allah subhanahu wa ta`ala. Jika pilihan kita baik, semoga Allah Ta`ala mudahkan urusan dan berikan barakah yang berlimpah. Dan jika pilihan kita itu buruk menurut Allah subhanahu wa ta`ala, maka semoga Allah Ta`ala jauhkan kita darinya seraya memberi ganti yang lebih baik.
Pelajaran berharga tentang shalat istikharah ini adalah soal ridha terhadap qadha` dan qadar Allah `Azza wa Jalla. Apa pun yang Allah Ta`ala berikan kepada kita, akan terasa keutamaannya, pada awalnya boleh jadi tampak lebih buruk dibanding yang kita harapkan. Jika hati ridha, kekurangan yang ada tak merisaukan. Sementara kelebihannya lebih mudah menumbuhkan rasa syukur.
Wallahu a`lam bish-shawab.

Sekedar catatan, shalat istikharah merupakan ibadah sunnah. Bukan wajib. Sesudah menunaikan shalat, barulah do`a istikharah dibaca.

Mendekati Orangtua
Salah sumber masalah yang kerap muncul belakangan ini adalah tidak selarasnya keinginan anak dan orangtua dalam masalah jodoh, bahkan dalam urusan pernikahan secara umum. Ini salah satunya dipicu oleh keengganan kita melibatkan orangtua dalam pembicaraan tentang nikah semenjak awal. Kita mengabaikan dakwah kepada orangtua, termasuk untuk urusan menikah. Tetapi begitu kita ingin menikah, kadang bahkan sudah memiliki kecenderungan sangat kuat terhadap seseorang, tiba-tiba saja kita menyampaikan maksud kepada orangtua. Inilah yang memicu masalah. Terkadang orangtua bahkan sampai tersinggung berat.

Meskipun demikian, sangat mungkin terjadi orangtua tidak sependapat dengan kita meski sudah berusaha menjalin komunikasi yang baik. Jika ini terjadi, hal pokok yang perlu kita perhatikan adalah menjaga diri untuk tetap bersikap dan bertutur yang baik kepada orangtua. Kita berbicara kepada orangtua dengan qaulan kariiman (perkataan yang memuliakan, gaya komunikasi memuliakan). Kita berusaha memahami cara berpikir orangtua, lalu menyampaikan maksud kita melalui cara berpikir orangtua.

Jika sekiranya sudah tidak ada masalah, segera saja melakukan khitbah (melamar). Bagaimana prosedurnya? Tidak berbelit-belit. Datang kepada orangtuanya, nyatakan maksud, itu sudah meminang. Bahkan melalui SMS atau WhatsApp pun bisa sekiranya orangtuanya ridha. Ringkasnya, khitbah itu menyatakan maksud untukmenikahi seorang wanita. Just simple like that! Adapun teknis yang beragam-ragam tidak masalah sejauh tidak memberatkan dan tidak bertentangan dengan syari`at.

Yang perlukita ingat adalah sabda Nabi shallaLlahu`alaihi wa sallam“ خَيْـرُ النِّكَـاحِ أَيْسَـرُهُ Sebaik-baik nikah adalah yang paling mudah.” (HR. Abu Dawud). Mudah di sini maksudnya mudah prosesnya, murah maharnya, mudah juga mencari maharnya.

Kapankah saatnya ta`aruf? Sesudah menikah. Sebelum akad, cukuplah mengetahui hal-hal mendasar terkait aqidah dana khlaknya. Kita mengorek informasi dari orang yang benar-benar mengenal, bukan hanya sekedar mengetahui selintas karena sering shalat bersama di masjid.
Betapa banyak pasangan suami-istri yang saling mengenal sebelum menikah, tapi baru beberapa bulan berumah-tangga sudah penuh perselisihan. Yang diperlukan adalah kesediaan untuk senantiasa belajar memahami istri/suaminya. Pada saat yang sama, ada kesediaan untuk menerima ia apa adanya. Jika engkau ridha kepadanya, yang sederhana pun akan membahagiakan dan menyentuh jiwa. Jika pernikahan Anda berlimpah bahagia, masih perlukah Anda menonton TV untuk mencari hiburan sementara jiwa senantiasa terhibur?

Wallahu a`lam bish-shawab.

Page facebook : Mohammad Fauzil Adhim

Kamis, 31 Oktober 2013

Penunggu Langit

Jangan merasa berkecil hati jika saat ini masih ada yang belum menemui jodohnya atau telah bertemu jodoh dan Allah berkehendak lain dengan jodoh tersebut
Urusan jodoh memang seringkali dikaitkan dengan “rahasia Tuhan” yang mengejutkan. Seseorang yang berparas menarik dan memiliki sekian kelebihan, tetapi tidak menemui pasangan. Sementara seseorang yang dipandang biasa-biasa saja lebih cepat menikah. Jodoh memang sudah ditentukannya tetapi bukan bererti kita cuma berdiam diri tanpa adanya usaha.
“.....Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ....” QS Ar Ra'd : 11 
Menemukan pasangan menuntut sejumlah usaha aktif yang komprehensif. Usaha-usaha positif dalam menemukan pasangan dapat disebut sebagai “menjemput jodoh”. Bagi orang yang beriman, berdoa adalah puncak segala usaha. Bahkan Islam menyebut doa sebagai silah al-mu’min (senjata mu’min).
Dalam mengenali pasangan, manusia tetap dibatasi kemampuannya untuk melihat pada aspek-aspek fisikal jasmani dan hal-hal yang nampak dimata. Sementara aspek batin yang tersembunyi tetaplah milik Allah. Sholat Istikarah merupakan upaya untuk memohon kepada Tuhan dalam membantu memilih calon pasangan. Jangan terburu-buru untuk menolak atau menerima sebelum upaya berdoa ini dilakukan agar tidak salah pilih.
Begitu dahsyatnya kewajaiban sholat istikarah dalam memantapkan hati dalam menentukan pilihanBahawasanya orang yang telah melaksanakan sholat istikarah hendaklah melaksanakan apa yang telah diazamkannya, baik hatinya menjadi terbuka maupun tidak .
Bermunajat pada Allah dalam sepertiga malamnya memohon diberikan pilihan terbaik dalam hidupnya sebuah petunjuk dalam memantapkan hati mengenai  jodoh yang menjadi misteri-Nya.
“Ya Allah, Tuhan yang Maha Memiliki Rahasia, Tuhan yang Maha memegang kasih sayang seluruh jiwa kami, Tuhan yang Maha Penentu, Tuhan yang Maha Menyatukan jiwa-jiwa kami, ya Allah, aku merupakan hamba yang lemah, hamba yang tidak mampu mengawal diriku daripada fitrah seorang manusia yang memerlukan teman, memerlukan kekasih, memerlukan suami/isteri, memerlukan keluarga.
Ya Allah aku tidak mampu menahan diriku daripada terjeremus ke dalam kemaksiatan. Ya Allah, jika masanya telah tiba, jika apa yang aku mohon ini merupakan sesuatu yang terbaik disisiMu Ya Allah, terbaik buat agamaku Ya Allah, terbaik buat diriku, keluarga dan seluruh mukminin dan mukminat Ya Allah, maka aku memohon kepadaMu YaAllah agar aku ditemukan dengan jodoh yang terbaik di sisiMu Ya Allah. Setiap yang terbaik di sisiMu Ya Allah, pasti terbaik buat diriku Ya Allah.
Namun Ya Allah, jika masanya untuk dipertemukan dengan jodohku belum tiba. Ya Allah, maka Ya Allah, aku memohon kepadaMu agar Kau tunjukkan jalan-jalan untuk aku memiliki jodohku Ya Allah, Aku memohon agar Kau tunjukkan aku tuntutun-tuntutan-Mu yang perlu aku lakukan untuk memiliki jodohku Ya Allah. Ya Allah, Tuhan yang Maha Mengkabulkan doa, Tuhan yang Maha Penentu jodoh, Ya Allah jauhilah aku daripada kemaksiatan, jauhilah aku daripada perkara-perkara yang tidak dapat memberikan manfaat, jauhilah aku daripada perkara-perkara yang Engkau murkai dan perkara-perkara yang menyesatkan diriku Ya Allah. Aamiin
Jadi, bagi yang belum bertemu jodoh, bersikap optimislah, temui serta jemputlah calon jodoh Anda dengan ikhtiar yang maksimum. Yakinlah bahwa Allah telah menentukan segala sesuatu berpasang-pasangan. Mudah-mudahan Allah membimbing usaha anda untuk sampai kepada jodoh yang ditakdirkan. Aamiin.
Jangan menyerah kegagalan yang pernah terjadi dalam menjemput jodoh bukan berarti kegagalan selamanya. Satu prinsip yang akan selalu melekat dihati
 ”La Tahzan Innalloha Ma’ana - Jangan Bersedih, Allah selalu bersama kita”
Senyum terindah untuk jodoh yang Allah telah persiapkan :)

Banjarmasin, 01 November 2013






Selasa, 22 Oktober 2013

18 Okt 13

Jazakumullah buat semua yang sudah mendoakan, semoga para malaikat juga ikut mendoakan hal yang sama buat kalian dan semoga Allah membalas jasa kalian semua di dunia maupun di akhirat, aamiin Insya Allah (ˆ⌣ˆ✽) thanksfull from me
*terharu*